nabitex news PARIGI MOUTONG, SULTENG,-Kondisi air sungai di Desa Siaga, Kecamatan Tinombo Selatan, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, yang berubah keruh kecokelatan di tengah cuaca cerah menjadi sorotan masyarakat.
Warga menduga perubahan kondisi air tersebut berkaitan dengan aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang disebut telah berlangsung cukup lama di kawasan hutan Desa Siaga.
Pantauan di lapangan pada Senin, 17 Agustus 2026, menunjukkan air sungai tampak keruh kecokelatan dan membawa material lumpur serta sedimentasi menuju kawasan muara. Sebagian perairan di sekitar muara juga terlihat mengalami kekeruhan, sementara bagian lainnya masih tampak lebih bening.
Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan karena perubahan warna air terlihat ketika cuaca sedang cerah dan tidak terjadi hujan.
Sejumlah warga yang ditemui mengatakan dugaan aktivitas PETI di kawasan hutan menjadi salah satu hal yang perlu diperiksa oleh pemerintah dan aparat penegak hukum.
“Hutan dikorek sudah lama, sungai menerima lumpurnya, laut menanggung akibatnya,” ujar salah seorang warga.
Menurut warga, persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan dugaan aktivitas pertambangan tanpa izin, tetapi juga menyangkut potensi dampak lingkungan yang harus diperiksa secara menyeluruh.
Hutan yang kehilangan tutupan, tanah yang terbuka, material yang terbawa aliran sungai hingga sedimentasi yang bermuara ke pesisir dinilai berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan.
“Hutan yang semestinya menjadi penyangga kehidupan justru berpotensi berubah menjadi ruang eksploitasi. Sungai menjadi jalur pengangkut material dari daratan, sementara laut menjadi tempat terakhir menerima dampaknya,” ungkap sumber masyarakat. Dugaan PETI Masih Perlu Dibuktikan
Meski masyarakat menduga terdapat aktivitas PETI di kawasan hutan Desa Siaga, hingga berita ini diterbitkan belum ada hasil pemeriksaan resmi yang memastikan dugaan tersebut maupun memastikan bahwa aktivitas tersebut menjadi penyebab perubahan warna air sungai.
Karena itu, diperlukan pemeriksaan langsung oleh instansi terkait untuk mengetahui sumber material lumpur serta memastikan ada atau tidaknya aktivitas pertambangan emas tanpa izin di kawasan tersebut.
Masyarakat pun meminta Gubernur Sulawesi Tengah bersama Kapolda Sulawesi Tengah turun langsung ke lokasi untuk melihat kondisi kawasan hutan, aliran sungai hingga muara.
Warga berharap pemeriksaan dilakukan secara terbuka dan menyeluruh, termasuk terhadap dugaan aktivitas PETI serta kemungkinan dampaknya terhadap lingkungan.
ESDM Sulteng Koordinasi dengan Polhut Kepala Bidang Mineral dan Batubara Dinas ESDM Sulawesi Tengah, Sultanisah, mengatakan pihaknya sedang melakukan koordinasi dengan Polisi Kehutanan (Polhut) terkait informasi aktivitas di kawasan tersebut.
“Saya lagi koordinasi ke Polhut. Informasinya mereka sudah turun ke lokasi,” ujar Sultanisah melalui pesan WhatsApp kepada redaksi.
Sementara itu, Kepala Balai Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Gakkum LHK), Subagiyo, belum memberikan keterangan lebih jauh.
Hukum Membongkar Borok Mafia Solar di Parigi Moutong: Jeritan Petani di Tengah Dugaan Penyelewengan Subsidi
Kota palu HUT ke-81 RI, Kajati Sulteng Tegaskan Penegakan Hukum Harus Adil dan Tanpa Tebang Pilih
Hukum Kejati Sulteng Setujui Penghentian Penuntutan Dua Perkara Penganiayaan Melalui Keadilan Restoratif
Daerah Parigi moutong Pengesahan Majelis Adat Sanjo Sio, Sanksi Adat Harus Sejalan dengan Hukum
Daerah Tojo Una Una HUT ke-81 RI, Kapolres Touna Tekankan Semangat Pengabdian dan Pelayanan kepada Masyarakat
Saat dihubungi redaksi, Subagiyo mengatakan dirinya sedang dalam perjalanan. “Maaf pak, saya sedang di pesawat,” ujarnya melalui pesan singkat WhatsApp.
Polisi Belum Memberikan Penjelasan Upaya konfirmasi juga dilakukan kepada anggota Polsek Tinombo Selatan terkait kondisi air sungai yang berubah keruh kecokelatan serta informasi mengenai dugaan aktivitas PETI di kawasan hutan Desa Siaga.
“Maaf Pak, Kapolsek kami sedang istirahat. Baru kembali dari upacara 17 Agustus,” ujar seorang anggota Polsek Tinombo Selatan. Anggota tersebut kemudian menyarankan agar konfirmasi dilakukan langsung kepada Polres Parigi Moutong.
Redaksi selanjutnya menghubungi Kapolres Parigi Moutong melalui sambungan telepon dan pesan WhatsApp pada Selasa, 18 Agustus 2026. Namun, hingga berita ini ditulis, belum diperoleh penjelasan mengenai penyebab keruhnya air sungai maupun dugaan aktivitas PETI tersebut.
Melalui pesan WhatsApp, Kapolres hanya menjawab singkat, “Lagi rapat, Pak.” Warga Minta Pemerintah Turun Langsung
Masyarakat berharap pemerintah dan aparat penegak hukum tidak hanya menerima informasi dari laporan, tetapi turun langsung melihat kondisi di lapangan.
Gubernur Sulawesi Tengah dan Kapolda Sulawesi Tengah diminta meninjau kawasan hutan Desa Siaga, aliran sungai hingga muara untuk memastikan kondisi sebenarnya serta menelusuri dugaan aktivitas PETI.
Jika nantinya ditemukan adanya aktivitas pertambangan tanpa izin, masyarakat berharap dilakukan penindakan sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Sebaliknya, apabila kekeruhan air sungai disebabkan faktor lain, masyarakat juga meminta pemerintah memberikan penjelasan berdasarkan hasil pemeriksaan.
Kondisi lingkungan tersebut menjadi semakin mendapat perhatian karena terlihat bertepatan dengan momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
“Jangan sampai Merah Putih hanya berkibar di atas tanah, sementara kawasan hutan justru dibiarkan rusak,” ungkap warga.
Pertanyaan kini berada di hadapan pemerintah dan aparat penegak hukum: apa penyebab sebenarnya air sungai menjadi keruh, dari mana material lumpur berasal, dan apakah terdapat aktivitas PETI di kawasan hutan Desa Siaga?
Jawaban atas pertanyaan tersebut membutuhkan pemeriksaan langsung dan transparan dari pihak berwenang.
Kemerdekaan semestinya tidak hanya dimaknai sebagai bebas dari penjajahan, tetapi juga sebagai tanggung jawab bersama menjaga tanah, hutan, sungai dan laut agar tetap menjadi warisan bagi generasi mendatang.
Redaksi akan terus melakukan konfirmasi kepada pihak-pihak terkait dan mengikuti perkembangan dugaan aktivitas PETI di Desa Siaga.(Tim)














Komentar