nabitex news PARIGI MOUTONG — Distribusi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Solar di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, mendadak berada di ambang badai. Alih-alih mendarat mulus ke tangan petani dan nelayan yang menjadi muara utama kesejahteraan rakyat, “emas cair” bersubsidi ini justru diduga kuat mengalir deras ke kantong-kantong gelap, mulai dari tambang ilegal hingga industri luar daerah.
Praktik culas ini terkuak melalui serangkaian temuan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Di SPBU 74-94307 Sausu, dari pasokan harian sekitar 8 ton Solar, petani lokal diduga hanya mengecap jatah sekitar 3 ton saja. Sisa pasokan yang masif tersebut disinyalir kuat dialihkan untuk menyokong aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) dan kebutuhan industri luar Parimo. Modusnya pun terbilang rapi, mulai dari manipulasi dokumen QR Code milik petani hingga setoran upeti berupa uang tunai dan jeriken kepada oknum pengelola dan operator.
Borok serupa turut terendus di SPBU 74-94317 Tolai. Di sini, pengawasan distribusi diduga ambrol setelah muncul instruksi pemotongan kuota resmi sebanyak satu hingga dua kupon (sekitar 5 liter) dari setiap jatah petani. Solar hasil potongan tersebut kemudian diperjualbelikan kembali di sekitar area SPBU dengan harga selangit. Tak hanya itu, antrean kendaraan di SPBU ini juga diduga dikuasai oleh kelompok tertentu menggunakan kendaraan modifikasi yang dilindungi oleh aliran “uang atensi”.
Sementara itu, sorotan tajam juga mengarah ke SPBU 74.943.08 Kampal. Setiap kali pasokan 16 ton Solar merapat, ribuan liter BBM dilaporkan amblas sebelum sempat menyentuh mekanisme distribusi normal—diduga sengaja dikeluarkan sebagai pelicin jalur luar resmi. Manajer SPBU Kampal, Fajar, hingga kini belum memberikan keterangan resmi saat dikonfirmasi terkait tudingan tersebut.
Dampak dari karut-marut tata kelola ini dirasakan langsung oleh masyarakat bawah. Para petani di Parigi Moutong terpaksa merogoh kocek hingga Rp450.000 per jeriken berkapasitas 33 liter demi mendapatkan Solar eceran untuk menghidupkan mesin traktor mereka.
Daerah Parigi moutong Air Sungai Keruh di Tengah Cuaca Cerah, Dugaan PETI di Desa Siaga Disorot, Gubernur dan Kapolda Diminta Turun Langsung
Daerah sigi Kapolres Sigi Sambut Tim Audit Itwasum Polri, Perkuat Integritas dan Pengelolaan Keuangan Lewat Evaluasi Ketat
Daerah Tojo Una Una Api Mengamuk Tengah Malam di Cempa, 0,5 Hektare Lahan Terbakar
Daerah toli-toli Ketum A-APPI Ade Julhaidir Desak Kapolda Sulteng Sikat Habis Mafia Solar Bersubsidi di Tolitoli, Soroti Dugaan Pembiaran APH
Daerah sigi Pengendali Banjir Sungai Gumbasa Capai 92 Persen, Perlindungan Warga Sigi Segera Terwujud
Merespons keresahan massal ini, Bupati Parigi Moutong, Erwin Burase, bergerak cepat dengan membentuk tim terpadu lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Erwin menegaskan bahwa persoalan ini murni menyangkut tata kelola dan ketepatan sasaran, seraya memperingatkan keras para oknum yang mencoba bermain api.
”Kalau aparat, tentu kita serahkan kepada institusinya. Tetapi kalau ASN di lingkungan Pemda Parimo terbukti terlibat, akan kita berikan sanksi sesuai ketentuan. Mulai dari pemindahan jabatan hingga sanksi disiplin, bahkan diberhentikan,” tandas Erwin.
Kini, publik Parigi Moutong menaruh harapan besar sekaligus rasa penasaran tinggi terhadap kinerja tim terpadu. Apakah investigasi independen ini mampu merontokkan jaringan mafia subsidi yang merugikan rakyat, atau justru berakhir sebagai angin lalu? Waktu dan transparansi hasil kerja tim yang akan menjawabnya, (TIM)














Komentar